Batam, JDNews.co.id – Dinamika perdagangan global dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan signifikan, baik dari sisi pola permintaan, struktur pasar, hingga strategi promosi ekspor. Kondisi ini menuntut pelaku usaha Indonesia, khususnya UMKM, untuk semakin adaptif dalam merespons peluang pasar internasional yang terus berkembang. (Jum’at, 19/12/2025)
Dalam konteks tersebut, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) memegang peran strategis dalam menyediakan analisis pasar, pemetaan peluang ekspor, serta rekomendasi pasar yang relevan bagi eksportir nasional.
Sebagai upaya memperkuat pengembangan pasar ekspor, Ditjen PEN melalui Direktorat Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor (Dit. P2IE) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Analisa Pasar Tujuan Ekspor pada Kamis (18/12/2025), bertempat di Harmoni One Convention Hotel & Service Apartments, Batam, Kepulauan Riau.
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk menjaring masukan langsung dari pelaku usaha terkait tantangan dan peluang ekspor di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompleks.
FGD tersebut diikuti oleh pelaku usaha dari berbagai sektor, khususnya UMKM, yang secara aktif menyampaikan beragam kendala dalam menembus pasar internasional. Beberapa isu utama yang mengemuka antara lain keterbatasan akses informasi pasar tujuan ekspor, tantangan pemenuhan standar dan regulasi negara tujuan, keterbatasan pembiayaan, hingga kesulitan memperoleh mitra dagang yang kredibel di luar negeri.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Ir. Fandy Iood, ST, MPWK, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sekaligus Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pelaksana Kontraktor dan Konstruksi Nasional (APPEKNAS), sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Dr. Fandy menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan asosiasi dalam membangun ekosistem ekspor nasional yang inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, Kadin memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah dalam meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku usaha agar mampu bersaing di pasar global.
Salah satu bentuk dukungan konkret Kadin, lanjut Dr. Fandy, adalah pengembangan WikiExport, sebuah platform informasi yang dirancang untuk membantu UMKM yang berminat memasuki kegiatan ekspor-impor, termasuk dalam mengikuti program business matching.
“Melalui WikiExport, pelaku usaha dapat mengakses informasi pasar, memahami regulasi ekspor, serta melihat peluang kerja sama internasional. Platform ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan dan kepercayaan diri UMKM untuk masuk ke pasar global,” ujar Dr. Fandy.
Selain Kadin dan APPEKNAS, FGD ini juga dihadiri oleh perwakilan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI/Eximbank Indonesia) yang memaparkan berbagai skema pembiayaan, penjaminan, dan asuransi ekspor yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha. Paparan tersebut memberikan wawasan mengenai solusi pembiayaan guna mengatasi keterbatasan modal yang kerap menjadi hambatan utama dalam pengembangan ekspor.
Turut hadir pula BPC HIPMI Batam yang menyampaikan aspirasi pengusaha muda daerah, khususnya di wilayah perbatasan yang memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan internasional. HIPMI Batam menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan jejaring bisnis untuk melahirkan eksportir baru dari daerah.
Melalui pelaksanaan FGD ini, Ditjen PEN berharap dapat menghimpun masukan konstruktif dari pelaku usaha sebagai bahan perumusan kebijakan dan program pengembangan pasar ekspor yang lebih responsif terhadap kebutuhan di lapangan. Sinergi antara pemerintah, Kadin, APPEKNAS, lembaga pembiayaan, serta asosiasi pengusaha diharapkan mampu memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.


