JDNews.com, Batam – Aroma skandal yang lebih menyerupai “perampokan sistematis” terhadap negara kini menyeruak dari kawasan Eksekutif Industrial Park, Batam. Di balik pagar tinggi, penjagaan berlapis, dan sistem keamanan yang nyaris tak bisa ditembus, sebuah aktivitas produksi rokok diduga berlangsung liar, masif, dan jauh dari prinsip transparansi.
Informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber internal mengungkap gambaran mencengangkan:
sebuah sistem operasional yang tertutup rapat, terkontrol ketat, dan seolah didesain agar tidak ada satu pun informasi bocor ke luar. Aktivitas di dalam kawasan tersebut disebut berjalan intens setiap hari—tanpa celah pengawasan terbuka.
Situasi ini memicu kecurigaan serius. Publik mulai melihat bahwa yang terjadi bukan sekadar aktivitas industri biasa, melainkan dugaan praktik produksi “senyap” yang berpotensi merugikan negara dalam skala besar.
Benteng Produksi Tertutup, Nyaris Tak Tersentuh
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa kawasan produksi tersebut dijalankan dengan pengawasan internal ekstrem.
Pekerja dilarang membawa telepon genggam.
Akses keluar masuk dijaga ketat seperti zona terbatas.
Informasi dari dalam kawasan nyaris mustahil keluar.
“Semua aktivitas sangat tertutup.
Pengawasannya seperti tidak ingin ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam,” ungkap seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Kondisi ini bukan hanya mencurigakan—tetapi juga memunculkan tanda tanya besar: apa yang sebenarnya sedang disembunyikan?
Produksi Diduga Menggila, Ratusan Ribu Bungkus per Hari
Pabrik yang disebut-sebut memproduksi rokok merek HD, T3, dan OFFO itu diduga berkaitan dengan PT Adhi Mukti Persada. Di dalamnya, lini produksi dikabarkan ditopang sejumlah mesin berkapasitas tinggi yang bekerja tanpa henti dalam beberapa shift setiap hari.
Setiap mesin mampu menghasilkan puluhan slop dalam satu siklus. Jika seluruh lini berjalan penuh, total produksi harian diperkirakan mencapai ratusan ribu bungkus rokok—angka yang menunjukkan aktivitas industri raksasa yang beroperasi terus-menerus tanpa jeda.
Skala ini bukan lagi produksi biasa. Ini adalah produksi masif yang berpotensi melampaui batas kewajaran.
Negara Terancam Kehilangan Miliaran—Setiap Bulan!
Dengan asumsi rata-rata nilai cukai sekitar Rp1.500 per bungkus, potensi kerugian negara yang ditimbulkan dari aktivitas ini sangat mencengangkan.
Perkiraan sementara menunjukkan:
Sekitar Rp912 juta per hari
Lebih dari Rp27 miliar per bulan
Dan itu baru dari satu titik yang terungkap.
Bayangkan jika praktik serupa terjadi di lokasi lain yang belum tersentuh—angka kerugian bisa membengkak menjadi skandal nasional yang mengguncang keuangan negara.
Pengawasan Dipertanyakan: Kecolongan atau Pembiaran?
Jika dugaan ini benar, maka ini bukan sekadar pelanggaran biasa. Ini adalah tamparan keras bagi sistem pengawasan industri dan cukai.
Bagaimana mungkin produksi berskala besar seperti ini bisa berjalan di kawasan industri resmi tanpa terdeteksi secara terbuka?
Apakah ini murni kelalaian? Atau ada
pembiaran yang lebih dalam?
Pertanyaan ini kini bergulir liar di tengah publik yang mulai kehilangan kepercayaan.
Desakan Keras: Bongkar, Telusuri, Tindak!
Sejumlah pihak kini mendesak aparat penegak hukum dan otoritas terkait untuk tidak lagi menunda langkah. Penelusuran menyeluruh harus segera dilakukan, meliputi:
Investigasi total terhadap aktivitas produksi
Penelusuran jalur distribusi rokok
Audit legalitas operasional perusahaan
Penindakan hukum tanpa kompromi jika ditemukan pelanggaran
Jika praktik ini benar terjadi dan terus dibiarkan, maka yang dirugikan bukan hanya kas negara.
Lebih dari itu—yang runtuh adalah kepercayaan publik terhadap hukum, pengawasan, dan keberanian negara dalam melindungi haknya sendiri.
Kini publik menunggu: apakah ini akan dibongkar, atau kembali tenggelam dalam diam?


