Batam, JDNews.co.id – Polemik video viral Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, terus menjadi perhatian publik. Kali ini, sorotan datang dari kalangan peneliti bahasa dan linguistik yang menilai ucapan tersebut bukan sekadar persoalan emosi sesaat, melainkan memiliki dampak sosial yang serius karena dianggap mengandung generalisasi terhadap kelompok masyarakat tertentu.
Dalam analisis kebahasaan yang berkembang di tengah publik, penggunaan kalimat yang mengaitkan pendatang dengan tindakan kriminal dinilai berpotensi membentuk stigma sosial di tengah masyarakat multikultural seperti Kota Batam.
Seorang peneliti linguistik menilai bahasa yang disampaikan oleh pejabat publik memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memandang kelompok tertentu. Karena itu, setiap ucapan pemimpin seharusnya mempertimbangkan aspek sosial, psikologis, dan persatuan masyarakat.
“Dalam ilmu linguistik, ucapan pejabat publik tidak hanya dipahami sebagai komunikasi biasa, tetapi juga memiliki kekuatan membentuk opini dan persepsi sosial. Ketika ada kalimat yang menggeneralisasi suatu kelompok, maka itu dapat memunculkan stereotip dan rasa tersinggung di masyarakat,” ujarnya saat dimintai tanggapan, Selasa (5/5/2026).
Menurutnya, penggunaan diksi yang bernada mengaitkan identitas daerah asal dengan perilaku kriminal dapat ditafsirkan sebagai bentuk pelabelan sosial yang sensitif di ruang publik. Terlebih Batam merupakan kota industri yang selama ini tumbuh dari keberagaman masyarakat lintas daerah dan suku.
Ia menjelaskan bahwa dalam kajian linguistik sosial, bahasa memiliki kekuatan memengaruhi hubungan antar kelompok masyarakat. Karena itu, ucapan seorang pejabat publik perlu dijaga agar tidak memunculkan kesan diskriminatif maupun memecah persatuan sosial.
“Bahasa pemimpin itu punya dampak psikologis. Ketika masyarakat mendengar ucapan yang terkesan menyudutkan kelompok tertentu, maka yang muncul bukan hanya kemarahan, tetapi juga rasa tidak diterima sebagai bagian dari masyarakat,” katanya.
Sorotan publik terhadap video tersebut terus meluas di media sosial. Banyak warga menilai ucapan itu melukai masyarakat kecil yang datang ke Batam untuk bekerja dan mencari kehidupan yang lebih baik.
Tidak sedikit masyarakat yang mempertanyakan bagaimana mungkin seorang pejabat publik dapat dengan mudah mengeluarkan pernyataan yang dianggap merendahkan pendatang di ruang terbuka.
“Batam ini maju karena keberagaman. Banyak orang datang merantau, bekerja keras, bahkan ikut membangun ekonomi kota. Jadi sangat disayangkan jika ada ucapan yang justru memberi stigma negatif kepada pendatang,” ujar seorang warga Batam.
Pengamat sosial juga menilai polemik ini dapat menjadi ujian serius terhadap citra kepemimpinan Wakil Wali Kota Batam di mata publik. Di era digital, setiap ucapan pejabat dengan cepat menyebar dan membentuk penilaian masyarakat terhadap karakter seorang pemimpin.
Menurut mereka, masyarakat saat ini tidak hanya menilai pemimpin dari program kerja, tetapi juga dari etika komunikasi dan kemampuan menjaga sensitivitas sosial di tengah keberagaman masyarakat.
Polemik tersebut kini berkembang bukan hanya sebagai isu viral semata, tetapi telah menjadi perbincangan luas mengenai pentingnya etika berbahasa bagi pejabat publik. Banyak pihak berharap peristiwa ini menjadi pelajaran agar para pemimpin lebih bijak, tenang, dan mampu menjaga persatuan dalam setiap pernyataan yang disampaikan kepada masyarakat.


