close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

27.5 C
Jakarta
Rabu, Maret 18, 2026

Kemenkes Latih Guru Jadi Penolong Pertama Luka Psikologis di Sekolah

JDNews.co.id, Jakarta- Dalam suasana kelas yang selama ini identik dengan hafalan dan angka, kini mulai tumbuh harapan baru: sekolah sebagai ruang aman bagi kesehatan mental. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkenalkan pelatihan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP), sebagai langkah awal membangun kesadaran emosional di lingkungan pendidikan.

Pelatihan ini menyasar guru, siswa, hingga masyarakat umum agar mampu menjadi penolong pertama bagi siapa pun yang mengalami tekanan psikologis.

“Promosi kesehatan jiwa adalah upaya menjaga kita tetap berada di zona hijau—zona aman secara mental,” ujar Yunita Restu Safitri, Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan Jiwa dan Kemitraan, Kemenkes RI, dalam pelatihan daring P3LP, Jumat (18/7/2025).

Yunita menjelaskan, P3LP bukan terapi psikologis dan tidak memerlukan latar belakang profesional di bidang kesehatan mental. Siapa pun bisa berperan sebagai penolong pertama, cukup dengan hadir, mendengar, dan menciptakan ruang aman.

“Kita tidak harus memberi solusi. Cukup duduk, dengarkan, dan jangan menghakimi,” tegasnya.

Mengenali Zona Emosi dan Prinsip 3M

Pelatihan P3LP mengenalkan konsep zona emosi sebagai indikator kondisi mental seseorang:

  • Hijau: Sehat mental

  • Biru: Stres ringan

  • Kuning: Gangguan emosional

  • Merah: Membutuhkan bantuan profesional

Penanganan sejak dini penting agar individu tidak jatuh ke zona merah. Karena itu, prinsip dasar P3LP dirumuskan dalam 3M:

  1. Memperhatikan gejala stres,

  2. Mendengarkan dengan empati,

  3. Menghubungkan ke bantuan lanjutan (guru BK, keluarga, atau tenaga profesional).

Sekolah sebagai Ruang Aman Psikologis

Melalui P3LP, Kemenkes mendorong terbentuknya budaya literasi kesehatan jiwa di sekolah. Guru bukan hanya pendidik akademik, tetapi juga teladan emosional.

“Kalau guru datang ke sekolah dengan hati yang bahagia, energi cinta itu akan menular ke siswa,” kata Yunita.

Ia menambahkan, keluarga juga perlu ambil bagian dalam penguatan ketahanan mental anak, melalui pola asuh positif sejak dini.

Lebih dari sekadar program pelatihan, P3LP bertujuan membentuk generasi penolong—bukan penghakim.

“Dengan pendekatan sederhana namun berdampak besar, P3LP menjadi jembatan menuju generasi Indonesia yang lebih empatik, tangguh, dan sehat mental. Mari jadi penolong pertama, bukan penghakim pertama. Karena satu telinga yang tulus bisa menyelamatkan satu hati yang hampir menyerah,” tutup Yunita.

sumber: infopublik.id

Berita Terpopuler

Reformasi Birokrasi Kabinet Amsakar-Li Claudia Masa Periode 2025 – 2030: Membangun Era Baru Kepemimpinan di Kota Batam

Oleh:Dr.C. Hendri, S.Si., M.E Akademisi/Dosen Univ Nagoya Indonesia/ Ketua Alumni Universitas Andalas Kepri/ Mahasiswa Doktoral UIN STS JambiJDNews.co.id - Kemenangan pasangan Amsakar-Li Claudia dengan perolehan...

Kisah Epik Mahabharata dan Ramayana dalam Pertunjukan Wayang

JDNews.co.id,- Wayang merupakan seni pertunjukan tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran dan penyebaran nilai-nilai moral. Dua kisah epik...

KPK Tingkatkan Kompetensi Pengelolaan Aset dan Barang Bukti melalui Pelatihan UNODC

JDNews.co.id, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus berupaya meningkatkan kemampuan pegawainya dalam pengelolaan aset dan barang bukti. Melalui pelatihan bertajuk “Property and Evidence...

22 PNS Pemko Batam Pensiun: Dedikasi dan Ucapan Terima Kasih

JDNews.co.id, Batam – Wali Kota Batam, H Muhammad Rudi (HMR), diwakili oleh Sekretaris Daerah Kota Batam, H Jefridin, melepas dan menyerahkan Surat Keputusan (SK)...

Dugaan Korupsi dan Pungli di SMPN 26 Batam: Kepala Sekolah Terancam Hukum

JDNews.co.id, Batam - Berdasarkan hasil investigasi mendalam, terungkap dugaan praktik pungutan liar (pungli) dan korupsi yang melibatkan Kepala SMPN 26 Batam, Zefmon Prima Putri,...

Tebu Raja Bululawang: Varietas Lokal yang Bertahan di Tengah Gempuran Impor

JDNews.co.id - Di tengah arus deras impor gula dan dominasi varietas tebu hasil rekayasa industri, Tebu Raja Bululawang tetap menunjukkan eksistensinya sebagai varietas lokal...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terbaru
Berita Terkait