Batam, JDNews.co.id –Tepat 514 hari sejak dilantik pada 25 Februari 2026, kepemimpinan Wali Kota Batam Amsakar Achmad bersama Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra, yang juga memimpin BP Batam, mulai menjadi bahan evaluasi di tengah masyarakat. Harapan besar yang mengiringi awal kepemimpinan keduanya kini berhadapan dengan kenyataan bahwa sejumlah persoalan mendasar masih terus dikeluhkan warga. Kamis (23/7/2026)
Keluhan yang paling sering terdengar adalah persoalan air bersih. Di sejumlah wilayah, seperti Tanjung Sengkuang, beberapa kawasan Sekupang, serta sejumlah titik lainnya di Kota Batam, warga mengaku pasokan air masih sering mati atau tidak mengalir dengan normal. Kondisi tersebut memaksa sebagian masyarakat mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di saat yang sama, muncul fenomena yang menjadi tanda tanya di tengah masyarakat. Beberapa kawasan perumahan baru terlihat telah menikmati pasokan air yang lancar. Bahkan, jaringan air di sejumlah perumahan sudah berfungsi sebelum seluruh rumah terjual atau dihuni.
Perbedaan kondisi itu memunculkan pertanyaan. Mengapa kawasan yang baru dibangun dapat menikmati layanan air dengan baik, sementara kawasan yang telah lama dihuni masyarakat masih berulang kali mengalami kesulitan memperoleh air bersih?
Selain air, persoalan sampah juga masih menjadi pekerjaan rumah. Di sejumlah lingkungan, warga mengeluhkan sampah yang terlambat diangkut sehingga menumpuk dan mengganggu kenyamanan. Sebaliknya, di beberapa kawasan baru, penanganan sampah dinilai lebih cepat dan lebih tertata.
Perbandingan tersebut membuat sebagian masyarakat berharap pelayanan publik dapat dilakukan secara merata tanpa membedakan kawasan baru maupun permukiman lama. Sebab, setiap warga Batam memiliki hak yang sama untuk memperoleh pelayanan dasar yang layak.
Lima Ratus Empat Bela hari memang belum cukup untuk menyelesaikan seluruh persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Namun, masyarakat berharap mulai terlihat langkah-langkah nyata yang mampu memberikan perubahan terhadap masalah yang paling dirasakan setiap hari.
Sebagai kepala daerah sekaligus pimpinan BP Batam, masyarakat menaruh ekspektasi besar kepada Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra untuk mempercepat penyelesaian persoalan pelayanan dasar.
Air bersih, kebersihan lingkungan, infrastruktur, dan pelayanan publik merupakan kebutuhan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.
Kepercayaan masyarakat tidak hanya dibangun melalui program yang diumumkan atau kegiatan seremonial, tetapi melalui hasil yang benar-benar dirasakan warga. Ketika air mengalir dengan lancar, sampah terangkut tepat waktu, dan pelayanan publik semakin baik, saat itulah masyarakat akan merasakan arti perubahan.
Momentum 514 hari kepemimpinan ini menjadi waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai persoalan yang selama ini masih menjadi keluhan warga. Masyarakat tentu berharap pemerintah tidak hanya mendengar aspirasi, tetapi juga menghadirkan solusi yang dapat dirasakan secara merata.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukan hanya ditentukan oleh lamanya masa jabatan, melainkan oleh sejauh mana kebijakan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Setelah 514 hari memimpin Batam, pertanyaan yang kini mengemuka adalah sudah sejauh mana perubahan itu benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat Kota Batam?

