Oleh: Farhan Furqani, S.H.,M.H (Praktisi Hukum)
KAHMI Bukan Milik Ketua, Batam Bukan Milik Kelompok
Otokritik ini bukan untuk menyerang pribadi Amsakar Achmad, melainkan sebuah pertanyaan yang layak dijawab secara terbuka oleh seluruh keluarga besar KAHMI Batam.
Amsakar adalah Wali Kota Batam sekaligus figur yang memimpin KAHMI Batam. Dua posisi tersebut membawa dua amanah yang sama-sama besar.
Sebagai wali kota, ia harus berdiri untuk seluruh masyarakat Batam.
Sebagai Ketum KAHMI, ia harus menaungi seluruh Keluarga Besar HMI dan alumni HMI, termasuk mereka yang berbeda pandangan dan tidak berada dalam lingkaran yang sama.
Di sinilah pertanyaan kritisnya:
Apakah ruang kepemimpinan KAHMI Batam sudah cukup terbuka bagi seluruh alumni, atau perlahan terbentuk lingkaran yang terlalu bergantung pada satu figur?
Pertanyaan ini penting karena organisasi kader tidak boleh mengalami ketergantungan kepada seseorang. Jangan Sampai KAHMI Menjadi Perpanjangan Kekuasaan
KAHMI seharusnya menjadi rumah intelektual, moral dan pengabdian para alumni HMI.
Karena itu, KAHMI harus dijaga agar tidak dipersepsikan sebagai perpanjangan tangan kekuasaan politik atau pemerintahan. Bukan berarti alumni yang menjadi pejabat publik tidak boleh memimpin organisasi. Boleh.
Tetapi justru karena memiliki kekuasaan publik, standar etik dan keterbukaannya harus lebih tinggi. Tidak boleh ada kesan bahwa akses organisasi, kesempatan, pengaruh ataupun ruang kepemimpinan hanya berputar pada kelompok tertentu.
Sebab ketika organisasi mulai identik dengan satu figur, muncul pertanyaan yang lebih mendasar:
Kalau figur itu tidak ada, apakah organisasinya tetap kuat?
Jika jawabannya tidak, berarti persoalannya bukan kekuatan pemimpin.
Persoalannya adalah lemahnya kaderisasi.
Kader Jangan Selamanya Menjadi Penonton
KAHMI tidak boleh hanya menjadi tempat alumni berkumpul dan bernostalgia dengan masa lalu.
KAHMI harus menjadi tempat lahirnya gagasan dan pemimpin masa depan.
Kader muda dan alumni yang baru tumbuh harus diberi ruang untuk belajar, berdebat, berorganisasi dan memimpin.
Jangan sampai terjadi situasi ketika nama-nama lama terus mendominasi setiap ruang, sementara generasi berikutnya hanya diberi tugas untuk mengikuti.
Kaderisasi tanpa pemberian kesempatan hanyalah slogan. dan kalau satu kelompok terus berada di depan dari periode ke periode, sementara kader lain tidak pernah mendapatkan kesempatan yang setara, maka organisasi harus berani melakukan otokritik.
Amsakar Perlu Menjawab dengan Keteladanan
Justru karena Amsakar berada pada posisi yang sangat strategis, ia mempunyai kesempatan untuk meninggalkan warisan yang lebih besar daripada sekadar jabatan.
Warisan terbaik seorang pemimpin bukanlah berapa lama ia duduk di kursi kepemimpinan.
Warisan terbaik adalah berapa banyak pemimpin baru yang berhasil ia lahirkan.
Maka tantangannya sederhana:
Berikan ruang.
Buka pintu.
Dorong kader baru.
Jangan takut digantikan.
Sebab ketika seorang pemimpin berani melahirkan penggantinya, di situlah kualitas kepemimpinannya benar-benar terlihat.
KAHMI Batam terlalu besar untuk bergantung pada satu nama.
Batam juga terlalu besar untuk dikelola hanya berdasarkan lingkaran tertentu.
Karena itu, kritik ini seharusnya tidak dibaca sebagai serangan kepada Amsakar Achmad, tetapi sebagai alarm agar KAHMI tetap menjadi rumah bersama.
“Jabatan pemerintahan adalah amanah rakyat. Jabatan organisasi adalah amanah anggota. Keduanya bukan hak milik pribadi.”
Dan mungkin pertanyaan paling penting untuk seluruh keluarga besar KAHMI Batam hari ini adalah:
Apakah kita sedang membangun organisasi yang kuat karena sistem, atau organisasi yang kuat hanya karena satu figur?
Jika KAHMI ingin terus besar, jawabannya harus jelas:
Bangun sistemnya. Hidupkan kaderisasinya. Buka ruang kepemimpinannya. Jangan biarkan KAHMI menjadi milik segelintir orang.
Sebab pemimpin yang hebat bukan yang membuat semua orang bergantung kepadanya, tetapi yang membuat organisasi mampu berdiri tegak bahkan setelah dirinya tidak lagi berada di sana.

