Batam, JDNews.co.id – Polemik viral nya video Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, kini berkembang menjadi sorotan serius yang dinilai dapat mengancam masa depan karier politiknya. Pernyataan bernada kasar, penuh kecurigaan terhadap pendatang, hingga dianggap mengandung sentimen SARA menuai gelombang kecaman luas dari masyarakat Kota Batam. Sabtu (2/4/2026)
Dalam video yang beredar di berbagai platform media sosial, Li Claudia Chandra terdengar mengucapkan kalimat yang dianggap merendahkan masyarakat pendatang dengan mengaitkan mereka pada tindakan kriminal.
Ucapan tersebut memicu kemarahan publik karena dinilai tidak pantas keluar dari seorang pejabat publik yang seharusnya menjadi pengayom seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku maupun daerah asal.
“Kalau bukan orang Batam datang ke sini, nggak kerja, nyolong-nyolong, langsung pulang saja ke daerahnya,” ucap Li Claudia dalam video yang kini ramai diperbincangkan publik.
Pernyataan itu langsung menuai reaksi keras. Banyak warga menilai ucapan tersebut bukan sekadar emosi sesaat, tetapi mencerminkan cara pandang yang berbahaya karena seolah memberi stigma negatif kepada para pendatang yang selama ini ikut membangun Kota Batam.
Padahal, Batam dikenal sebagai kota industri dan kota multikultural yang tumbuh dari keberagaman.
Ribuan masyarakat dari berbagai daerah datang untuk bekerja, mencari penghidupan, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kota.
Karena itu, ucapan yang mengarah pada generalisasi terhadap pendatang dianggap dapat melukai rasa persatuan di tengah masyarakat.
Tokoh masyarakat Batam menyebut seorang pemimpin seharusnya hadir untuk merangkul rakyat, bukan justru mengeluarkan pernyataan yang memicu perpecahan sosial. “Pendatang bukan musuh. Batam ini berdiri karena keberagaman. Kalau pemimpin mulai berbicara dengan nada curiga kepada kelompok tertentu, itu sangat berbahaya bagi keharmonisan masyarakat,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
Kritik juga muncul dari kalangan pemerhati sosial dan politik yang menilai ucapan tersebut dapat menjadi titik balik menurunnya kepercayaan publik terhadap Li Claudia Chandra.
Di tengah era digital, setiap ucapan pejabat publik dapat dengan cepat menyebar dan membentuk penilaian masyarakat terhadap karakter seorang pemimpin.
Menurut mereka, jabatan tinggi tidak hanya menuntut kemampuan administrasi dan politik, tetapi juga kedewasaan dalam berkomunikasi.
Ketika seorang pejabat dianggap arogan dan tidak mampu menjaga sensitivitas sosial, maka dampaknya bisa panjang terhadap elektabilitas maupun citra politiknya di masa depan.
Sorotan publik semakin tajam karena Li Claudia Chandra memiliki perjalanan politik yang cukup panjang sebelum menjabat Wakil Wali Kota Batam.
Dengan pengalaman tersebut, masyarakat justru berharap hadirnya sikap yang lebih bijak, tenang, dan menghormati rakyat kecil dalam setiap kondisi.
Sejumlah warga bahkan menilai pernyataan itu telah melukai hati masyarakat kecil yang selama ini datang ke Batam untuk bekerja keras demi keluarga mereka.
Tidak sedikit yang mempertanyakan bagaimana mungkin seorang pejabat publik bisa dengan mudah mengaitkan pendatang dengan tindakan kriminal di ruang terbuka.
“Orang datang ke Batam cari makan, cari kerja, bukan untuk dihina. Pemimpin seharusnya melindungi semua masyarakat tanpa memandang asal daerah,” ujar seorang warga.
Polemik ini kini bukan lagi sekadar persoalan viral di media sosial, melainkan telah berkembang menjadi ujian besar terhadap citra kepemimpinan Wakil Wali Kota Batam di mata publik.


