Batam, JDNews.co.id – Tumpukan sampah yang menggunung dipinggir Jalan Raya Marina City, Tanjung Riau, Kecamatan Sekupang, kembali menjadi sorotan publik. Dalam foto yang beredar, terlihat pagar seng yang dijadikan pembatas tempat pembuangan sampah harus ditopang dengan beberapa potongan kayu agar tidak roboh akibat tekanan sampah yang terus menumpuk dari dalam. Kamis (12/3/2026)
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana pengelolaan tempat penampungan sampah dilakukan secara darurat. Berbagai jenis limbah rumah tangga seperti plastik, sisa makanan, hingga sampah campuran terlihat meluap dan bahkan menyembul keluar dari celah pagar seng yang sudah berkarat.
Ironisnya, lokasi tumpukan sampah itu berada tepat di pinggir jalan yang setiap hari dilalui masyarakat, termasuk pengendara sepeda motor. Kayu-kayu yang dipasang sebagai penahan terlihat hanya menjadi penopang sementara agar pagar seng tidak jebol akibat dorongan sampah dari dalam.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru terkait faktor keselamatan. Jika potongan kayu tersebut tidak lagi mampu menahan tekanan tumpukan sampah, bukan tidak mungkin pagar seng bersama sampah yang menumpuk akan roboh atau longsor ke arah jalan.
Apabila hal itu terjadi saat pengendara melintas, dampaknya bisa sangat berbahaya. Sampah yang jatuh mendadak ke badan jalan berpotensi menimpa pengendara sepeda motor, menyebabkan kecelakaan, bahkan menimbulkan korban.
Seorang warga yang sering melintas di lokasi tersebut mengaku kondisi itu cukup mengkhawatirkan.
“Kalau dilihat, kayunya seperti cuma ditahan seadanya. Kalau sampahnya makin banyak dan kayunya tidak kuat, bisa saja roboh ke jalan. Yang lewat kan banyak motor,” ujarnya.
Tokoh masyarakat setempat juga menilai kondisi ini seharusnya tidak terjadi jika pengelolaan kebersihan dilakukan dengan baik dan terencana.
“Tempat penampungan sampah seharusnya memiliki fasilitas yang layak, bukan pagar seng yang ditahan kayu seperti ini. Ini bukan hanya soal kebersihan, tapi juga soal keselamatan masyarakat yang melintas,” katanya.
Sementara itu, seorang pengamat kebijakan publik menilai kondisi tersebut mencerminkan lemahnya manajemen pengelolaan sampah di lapangan.
Menurutnya, jika fasilitas penampungan saja terlihat darurat seperti ini, maka wajar jika publik mulai mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran kebersihan yang setiap tahun dialokasikan pemerintah daerah.
“Pengelolaan sampah bukan sekadar menumpuk lalu diangkut. Harus ada sistem yang baik, fasilitas yang memadai, serta pengawasan yang jelas. Jika sampai pagar harus ditopang kayu agar tidak roboh, maka ini menunjukkan ada masalah dalam manajemen pengelolaan di lapangan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah dan dinas terkait perlu segera melakukan evaluasi dan perbaikan, mulai dari penyediaan tempat penampungan yang aman hingga memastikan pengangkutan sampah dilakukan secara rutin.
Jika tidak segera ditangani, kondisi seperti ini bukan hanya menciptakan lingkungan yang kotor, tetapi juga berpotensi menjadi ancaman keselamatan bagi masyarakat yang setiap hari melintas di jalan tersebut.
Karena itu, masyarakat berharap pemerintah tidak menunggu sampai terjadi insiden terlebih dahulu baru bertindak, melainkan segera mengambil langkah nyata agar persoalan sampah dan potensi bahaya di pinggir jalan tersebut dapat segera diatasi.


