Batam, JDNews.co.id – Kesabaran pemuda dan warga Kelurahan Batu Merah, Kecamatan Batu Ampar, tampaknya telah mencapai batas. Merasa berulang kali diabaikan dalam persoalan rekrutmen tenaga kerja oleh salah satu perusahaan yang beroperasi di wilayah mereka, masyarakat akhirnya turun langsung menyampaikan sikap dan tuntutan secara terbuka. Jumat (5/6/2026).
Aksi tersebut bukan sekadar bentuk protes biasa. Di baliknya tersimpan kekecewaan yang telah lama mengendap akibat munculnya anggapan bahwa perusahaan yang berdiri dan beroperasi di lingkungan mereka justru belum memberikan ruang yang cukup bagi warga sekitar untuk mendapatkan kesempatan bekerja.
Ironisnya, di tengah tingginya angka pencari kerja dan kebutuhan ekonomi masyarakat, warga mengaku masih sering melihat tenaga kerja dari luar wilayah lebih mudah masuk dibandingkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan perusahaan.
”Kami tidak menolak siapa pun untuk bekerja. Tapi jangan sampai warga yang setiap hari melihat aktivitas perusahaan dari depan rumahnya sendiri justru menjadi penonton di kampungnya sendiri,” ujar salah seorang warga yang ikut menyampaikan aspirasi.
Menurut pemuda setempat, persoalan ini bukan pertama kali muncul. Keluhan mengenai rekrutmen tenaga kerja disebut telah beberapa kali disampaikan dalam berbagai kesempatan. Namun hingga kini, masyarakat menilai belum ada langkah nyata yang mampu menjawab keresahan tersebut.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan yang semakin kuat di tengah masyarakat. Sejauh mana perusahaan benar-benar memiliki komitmen terhadap lingkungan sosial tempat mereka beroperasi? Dan apakah keberadaan perusahaan telah memberikan manfaat yang dirasakan secara langsung oleh warga sekitar?
Warga menilai perusahaan tidak cukup hanya berbicara mengenai investasi, pertumbuhan usaha, dan produktivitas. Di mata masyarakat, keberhasilan sebuah perusahaan juga diukur dari seberapa besar kepeduliannya terhadap lingkungan yang menopang aktivitas bisnisnya.
Dalam pernyataan sikap yang disampaikan kepada aparat keamanan, pemerintah kelurahan, LPM, forum masyarakat, serta pihak terkait lainnya, pemuda dan warga Batu Merah menuntut agar perusahaan segera melakukan evaluasi terhadap kebijakan rekrutmen tenaga kerja yang selama ini dijalankan.
Mereka meminta agar warga tempatan yang telah mengikuti proses pendaftaran dan pelatihan yang diselenggarakan perusahaan tidak hanya dijadikan pelengkap administrasi, tetapi benar-benar diberikan kesempatan bekerja secara nyata.
Selain itu, masyarakat juga mendesak agar pihak manajemen tidak menutup diri dari lingkungan sekitar. Selama ini, warga menilai komunikasi antara perusahaan dengan tokoh masyarakat, RT/RW, organisasi kepemudaan, maupun pemerintah setempat masih jauh dari harapan.
”Kami tidak sedang meminta belas kasihan. Kami hanya meminta keadilan. Jangan sampai perusahaan berdiri megah di wilayah kami, tetapi masyarakat sekitar justru tidak merasakan manfaat yang seharusnya mereka peroleh,” tegas salah seorang tokoh pemuda.
Fenomena ketimpangan kesempatan kerja antara perusahaan dan masyarakat sekitar memang bukan persoalan baru di Kota Batam. Namun ketika keluhan yang sama terus berulang tanpa solusi yang jelas, hal tersebut berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap komitmen sosial perusahaan.
Di tengah derasnya arus investasi yang masuk ke Batam, masyarakat berharap perusahaan-perusahaan yang beroperasi tidak hanya mengejar keuntungan semata, tetapi juga menjalankan tanggung jawab sosial secara nyata. Sebab bagi warga Batu Merah, lapangan pekerjaan bukan sekadar angka statistik, melainkan soal dapur keluarga yang harus tetap mengepul setiap hari.


