close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

34.9 C
Jakarta
Senin, April 27, 2026

Mengapa Tikus Dibiarkan Mati Sementara Hewan Lain Mendapat Pertolongan?

JDNews.co.id, Jakarta, 28 Agustus 2025 – Fenomena sosial terkait perlakuan terhadap hewan sering memunculkan pertanyaan, terutama mengenai mengapa    tikus yang mati sering dibiarkan begitu saja, sementara hewan lain seperti kucing atau anjing biasanya mendapatkan pertolongan dan pemakaman yang layak.

Para pakar perilaku hewan menjelaskan bahwa persepsi masyarakat terhadap tikus dan hewan peliharaan sangat dipengaruhi oleh stereotip dan stigma. Tikus sering dianggap sebagai hama yang membawa penyakit, sehingga kematiannya tidak dianggap sebagai masalah yang perlu mendapat perhatian. “Tikus sering kali diasosiasikan dengan kebersihan yang buruk, membuat banyak orang merasa tidak perlu mengurusnya,” kata Dr. Ani Setiawan, seorang ahli zoologi.

Di sisi lain, kucing dan anjing dianggap sebagai hewan peliharaan yang memiliki ikatan emosional dengan manusia. Mereka sering diadopsi sebagai bagian dari keluarga, sehingga ketika mereka mati, banyak orang merasa kehilangan dan ingin memberikan penghormatan terakhir. “Perasaan empati terhadap hewan peliharaan sangat kuat, dan ini mendorong orang untuk melakukan tindakan yang lebih manusiawi,” tambah Dr. Ani.

Aspek budaya juga berperan dalam perbedaan perlakuan ini. Dalam banyak budaya, hewan peliharaan sering kali dianggap simbol kasih sayang dan loyalitas, sementara tikus tidak memiliki status serupa. Dengan demikian, tindakan untuk menguburkan atau memberi penghormatan kepada hewan peliharaan lebih umum dilakukan.

Sementara itu, beberapa aktivis perlindungan hewan mengajak masyarakat untuk lebih memahami pentingnya semua makhluk hidup, termasuk tikus. “Setiap hewan memiliki perannya sendiri dalam ekosistem. Meningkatkan kesadaran tentang perlakuan adil terhadap semua hewan adalah langkah penting,” ujar salah satu aktivis.

Kesadaran ini diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap berbagai jenis hewan, termasuk tikus, sehingga semua makhluk hidup mendapatkan perlakuan yang lebih baik, terlepas dari stigma yang melekat pada mereka.

Berita Terpopuler

Kisah Epik Mahabharata dan Ramayana dalam Pertunjukan Wayang

JDNews.co.id,- Wayang merupakan seni pertunjukan tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran dan penyebaran nilai-nilai moral. Dua kisah epik...

Reformasi Birokrasi Kabinet Amsakar-Li Claudia Masa Periode 2025 – 2030: Membangun Era Baru Kepemimpinan di Kota Batam

Oleh:Dr.C. Hendri, S.Si., M.E Akademisi/Dosen Univ Nagoya Indonesia/ Ketua Alumni Universitas Andalas Kepri/ Mahasiswa Doktoral UIN STS JambiJDNews.co.id - Kemenangan pasangan Amsakar-Li Claudia dengan perolehan...

KPK Tingkatkan Kompetensi Pengelolaan Aset dan Barang Bukti melalui Pelatihan UNODC

JDNews.co.id, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus berupaya meningkatkan kemampuan pegawainya dalam pengelolaan aset dan barang bukti. Melalui pelatihan bertajuk “Property and Evidence...

Tebu Raja Bululawang: Varietas Lokal yang Bertahan di Tengah Gempuran Impor

JDNews.co.id - Di tengah arus deras impor gula dan dominasi varietas tebu hasil rekayasa industri, Tebu Raja Bululawang tetap menunjukkan eksistensinya sebagai varietas lokal...

Dugaan Korupsi dan Pungli di SMPN 26 Batam: Kepala Sekolah Terancam Hukum

JDNews.co.id, Batam - Berdasarkan hasil investigasi mendalam, terungkap dugaan praktik pungutan liar (pungli) dan korupsi yang melibatkan Kepala SMPN 26 Batam, Zefmon Prima Putri,...

Ketika Anak Muda Kehilangan Arah: Kenakalan Remaja Jadi Alarm Sosial

JDNews.co.id, Jakarta — Tawuran, narkoba, perundungan, geng motor, hingga aksi nekat yang viral di media sosial. Semua ini bukan lagi sekadar cerita sampingan—kenakalan remaja...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terbaru
Berita Terkait