Batam, JDNews.co.id – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar menuai sorotan tajam publik di tengah tekanan ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang disebut telah menembus Rp17.620. Minggu (17/5/2026)
Pernyataan itu disampaikan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Pada sabtu (16/5).
“Jadi saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa rupiah begini, dolar begini, orang rakyat di desa nggak pake dolar, kok,” kata Prabowo.
Ucapan tersebut langsung memicu gelombang reaksi di media sosial. Sebab bagi banyak masyarakat, persoalan dolar bukan sekadar urusan elite ekonomi atau pasar internasional, melainkan ancaman nyata terhadap harga kebutuhan hidup sehari-hari.
Meski rakyat kecil tidak memegang dolar, hampir seluruh sektor ekonomi Indonesia tetap bergantung pada transaksi global yang menggunakan mata uang Amerika Serikat.
Ketika dolar melonjak dan rupiah melemah, dampaknya langsung menjalar ke berbagai kebutuhan masyarakat:
• Harga BBM berpotensi naik
• Ongkos transportasi meningkat
• Harga sembako ikut melonjak
• Gas elpiji semakin mahal
• Pupuk dan pakan ternak naik
• Harga obat-obatan membengkak
• Tarif listrik dan distribusi tertekan
• Harga elektronik serta kendaraan ikut melambung
Kenaikan itu kemudian memicu efek berantai. Pedagang menaikkan harga, biaya produksi membesar, dan masyarakat kecil menjadi pihak pertama yang paling merasakan tekanan.
Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, pelemahan rupiah bukan sekadar angka ekonomi di televisi. Dampaknya langsung terasa di dapur rumah tangga.
Ketika harga beras naik, minyak goreng mahal, cabai melonjak, dan ongkos harian bertambah, sementara pendapatan tetap, maka yang terjadi adalah penurunan daya beli secara perlahan.
Situasi ini membuat banyak keluarga kecil terpaksa mengurangi kebutuhan pokok, menekan pengeluaran harian, hingga mencari tambahan pekerjaan demi bertahan menghadapi kenaikan harga yang terus terjadi.
Di sejumlah daerah, masyarakat mulai mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik, sementara penghasilan tidak ikut meningkat.
Jika pelemahan rupiah terus berlanjut, dampaknya dikhawatirkan tidak hanya memukul pasar, tetapi juga memperbesar tekanan sosial di tengah masyarakat.
Kenaikan dolar dapat memperberat:
• Beban utang negara
• Biaya impor pangan dan energi
• Harga bahan baku industri
• Stabilitas UMKM
• Lapangan pekerjaan
Investasi dan pertumbuhan ekonomi
Pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor berisiko menaikkan harga atau mengurangi produksi. Jika kondisi terus memburuk, ancaman PHK dan perlambatan ekonomi bisa semakin terasa.
Publik Minta Pemerintah Lebih Peka
Di tengah kondisi tersebut, sebagian masyarakat menilai pemerintah perlu lebih serius membaca keresahan rakyat terkait melemahnya rupiah.
Sebab bagi masyarakat bawah, dolar bukan hanya soal mata uang asing, melainkan faktor yang menentukan mahal atau tidaknya kebutuhan hidup setiap hari.
Publik kini menunggu langkah nyata pemerintah untuk menjaga stabilitas rupiah, menekan lonjakan harga, serta memastikan rakyat kecil tidak menjadi korban terbesar dari tekanan ekonomi yang terus membesar.


