close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

28.1 C
Jakarta
Rabu, April 22, 2026

Fakta Arkeologi: Ulat Sagu Jadi Makanan Pokok Leluhur Papua Ribuan Tahun Lalu

JdNews.co.id – Sejak ribuan tahun lalu, masyarakat di Papua telah mengandalkan alam sebagai sumber pangan utama. Salah satu temuan arkeologi terbaru mengungkap bahwa ulat sagu bukan hanya makanan tradisional saat ini, tetapi sudah menjadi bagian penting dalam pola konsumsi leluhur mereka sejak zaman prasejarah. Bukti ini ditemukan melalui penelitian di situs-situs arkeologi yang menunjukkan adanya sisa-sisa konsumsi ulat sagu dalam endapan tanah kuno.

Para peneliti menemukan sisa-sisa mikroskopis dari ulat sagu di alat-alat batu yang digunakan manusia purba di Papua. Ini menunjukkan bahwa ulat sagu bukan sekadar makanan tambahan, melainkan sumber protein utama bagi penduduk asli sejak ribuan tahun lalu. Selain itu, temuan ini juga menguatkan teori bahwa masyarakat Papua memiliki kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di sekitar mereka.

Pohon sagu sendiri telah lama dikenal sebagai tanaman penting di Papua, karena batangnya dapat diolah menjadi tepung sagu, bahan utama dalam berbagai makanan tradisional. Namun, keberadaan ulat sagu sebagai sumber protein tinggi menambah nilai gizi dari pola makan masyarakat Papua kuno. Proses panen ulat sagu dilakukan dengan membiarkan batang sagu yang sudah tumbang mengalami dekomposisi alami, yang kemudian menjadi habitat ideal bagi ulat sagu untuk berkembang biak.

Menariknya, pola konsumsi ulat sagu ini masih bertahan hingga saat ini di beberapa komunitas adat Papua. Ulat sagu biasanya dimakan mentah, dibakar, atau dimasak dalam berbagai hidangan khas. Bagi masyarakat Papua, ulat sagu tidak hanya dianggap sebagai makanan, tetapi juga bagian dari budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Penemuan ini memberikan wawasan lebih dalam tentang bagaimana masyarakat Papua purba bertahan hidup dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara berkelanjutan. Fakta ini juga membuktikan bahwa makanan berbasis serangga, yang kini mulai populer sebagai sumber protein alternatif di dunia modern, sebenarnya telah lama dikonsumsi oleh nenek moyang kita.

Dengan adanya bukti arkeologi ini, semakin jelas bahwa kearifan lokal dalam memilih dan mengolah makanan telah ada sejak dahulu kala. Keberlanjutan konsumsi ulat sagu di Papua menjadi contoh bagaimana tradisi kuliner dan pola makan sehat berbasis sumber daya alam dapat terus dipertahankan hingga kini.

Berita Terpopuler

Kisah Epik Mahabharata dan Ramayana dalam Pertunjukan Wayang

JDNews.co.id,- Wayang merupakan seni pertunjukan tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran dan penyebaran nilai-nilai moral. Dua kisah epik...

Reformasi Birokrasi Kabinet Amsakar-Li Claudia Masa Periode 2025 – 2030: Membangun Era Baru Kepemimpinan di Kota Batam

Oleh:Dr.C. Hendri, S.Si., M.E Akademisi/Dosen Univ Nagoya Indonesia/ Ketua Alumni Universitas Andalas Kepri/ Mahasiswa Doktoral UIN STS JambiJDNews.co.id - Kemenangan pasangan Amsakar-Li Claudia dengan perolehan...

KPK Tingkatkan Kompetensi Pengelolaan Aset dan Barang Bukti melalui Pelatihan UNODC

JDNews.co.id, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus berupaya meningkatkan kemampuan pegawainya dalam pengelolaan aset dan barang bukti. Melalui pelatihan bertajuk “Property and Evidence...

Tebu Raja Bululawang: Varietas Lokal yang Bertahan di Tengah Gempuran Impor

JDNews.co.id - Di tengah arus deras impor gula dan dominasi varietas tebu hasil rekayasa industri, Tebu Raja Bululawang tetap menunjukkan eksistensinya sebagai varietas lokal...

Dugaan Korupsi dan Pungli di SMPN 26 Batam: Kepala Sekolah Terancam Hukum

JDNews.co.id, Batam - Berdasarkan hasil investigasi mendalam, terungkap dugaan praktik pungutan liar (pungli) dan korupsi yang melibatkan Kepala SMPN 26 Batam, Zefmon Prima Putri,...

Ketika Anak Muda Kehilangan Arah: Kenakalan Remaja Jadi Alarm Sosial

JDNews.co.id, Jakarta — Tawuran, narkoba, perundungan, geng motor, hingga aksi nekat yang viral di media sosial. Semua ini bukan lagi sekadar cerita sampingan—kenakalan remaja...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terbaru
Berita Terkait