JDNews.co.id, Jakarta, 6 Agustus 2025 — Gejolak ekonomi nasional mulai berdampak nyata pada masyarakat kelas menengah. Dalam tiga bulan terakhir, jumlah warga yang mengalami kesulitan membayar cicilan mobil mengalami peningkatan signifikan.
Data dari Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menunjukkan kenaikan angka tunggakan kredit kendaraan sebesar 12 persen secara nasional. Fenomena ini terjadi seiring melemahnya daya beli, naiknya harga kebutuhan pokok, serta kenaikan suku bunga pinjaman dari lembaga pembiayaan.
“Sebelumnya saya bisa bayar cicilan Rp3 juta per bulan. Tapi sekarang, sejak biaya hidup makin tinggi dan penghasilan menurun, mulai susah ngejar bayarnya,” ujar Rika (35), seorang karyawan swasta di Tangerang yang sudah dua bulan menunggak cicilan mobil.
Pihak leasing mengaku mulai menerima lonjakan permohonan restrukturisasi kredit, namun tidak sedikit yang terpaksa melakukan penarikan kendaraan akibat gagal bayar berkepanjangan. Bahkan, pasar mobil bekas diprediksi akan dibanjiri unit hasil penarikan dalam waktu dekat.
Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada, Dr. Bimo Wicaksono, menilai situasi ini sebagai sinyal awal melemahnya ketahanan ekonomi rumah tangga. “Mobil bukan hanya alat transportasi, tapi juga cerminan kestabilan keuangan. Ketika banyak warga mulai kesulitan membayar cicilan, itu pertanda tekanan ekonomi sudah sangat nyata,” ungkapnya.
Pemerintah diminta hadir dengan kebijakan nyata, baik melalui relaksasi kredit maupun stimulus bagi sektor ekonomi rakyat. Jika tidak, gelombang kredit macet diprediksi akan meluas ke sektor lain, termasuk properti dan konsumsi rumah tangga.
Sumber = cnnindonesia.com


