Batam, JDNews.co.id – Waktu berjalan tanpa pernah menoleh ke belakang. Ia tidak bisa dihentikan, tidak bisa diulang, dan tidak pernah menunggu siapa pun. Setiap detik yang berlalu sejatinya sedang membawa manusia semakin dekat pada satu kepastian akhir kehidupan di dunia. Selasa (3/3/2026)
Kesadaran inilah yang kembali digaungkan dalam berbagai kajian keagamaan belakangan ini bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara, bukan tujuan akhir. Banyak manusia terlena mengejar harta, jabatan, dan popularitas, seolah hidup akan berlangsung selamanya. Padahal, waktu terus menggerus usia tanpa terasa.
Dalam ajaran Islam, kehidupan dunia diibaratkan seperti tempat singgah seorang musafir. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang mengingatkan agar manusia hidup di dunia seperti orang asing atau pengembara. Pesan ini menjadi refleksi mendalam bahwa segala yang dimiliki hari ini, esok bisa saja hilang.
Al-Qur’an pun mengabadikan peringatan tentang waktu melalui Surah Al-‘Asr, yang menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh. Para ulama menjelaskan bahwa sumpah atas nama waktu menunjukkan betapa berharganya setiap detik dalam kehidupan.
Sejarah para nabi menjadi pelajaran nyata tentang kefanaan dunia.
Kekuasaan besar yang pernah dimiliki para raja di masa lampau tidak mampu menahan datangnya kematian. Bahkan sosok semulia Nabi Sulaiman AS yang dianugerahi kerajaan luas tetap meninggalkan seluruh kekuasaannya ketika ajal menjemput. Begitu pula keteguhan Nabi Muhammad SAW yang hidup sederhana meski memiliki kedudukan mulia sebagai utusan Allah.
Fenomena kehidupan modern saat ini menunjukkan paradoks. Di satu sisi, teknologi berkembang pesat, bangunan menjulang tinggi, dan kemewahan mudah diakses. Namun di sisi lain, kegelisahan dan kekosongan jiwa semakin terasa. Banyak orang sukses secara materi, tetapi rapuh secara spiritual.
Para tokoh agama mengingatkan bahwa kesadaran tentang sementara-nya dunia bukan untuk membuat manusia pasif, melainkan agar hidup lebih bermakna. Bekerja tetap penting, berusaha tetap wajib, tetapi orientasi hati tidak boleh terikat sepenuhnya pada dunia.
“Dunia ini hanya ladang. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita panen di akhirat,” ujar seorang penceramah dalam tausiyahnya.
Perjalanan waktu sejatinya adalah alarm yang terus berbunyi. Rambut yang memutih, tubuh yang melemah, dan usia yang bertambah adalah tanda bahwa kesempatan beramal semakin berkurang. Tidak ada satu pun manusia yang mampu membeli kembali waktu yang telah berlalu.
Kesadaran ini diharapkan mampu membangunkan hati yang lalai. Bahwa harta tidak akan dibawa ke liang lahat, jabatan tidak akan menemani di alam kubur, dan popularitas tidak akan menjadi penolong di hari perhitungan.
Pada akhirnya, dunia hanyalah panggung ujian. Yang abadi adalah kehidupan setelahnya. Dan waktu yang terus berjalan adalah saksi, apakah manusia memanfaatkannya untuk kebaikan atau justru menyia-nyiakannya.
Sebab ketika waktu benar-benar habis, yang tersisa hanyalah amal.


