Batam, JDNews.co.id – Republik Islam Iran resmi mengumumkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang disebut tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel. Kabar tersebut disampaikan dalam siaran televisi nasional yang berlangsung penuh emosi; presenter terlihat menahan tangis saat membacakan pengumuman resmi kepada publik.
Informasi dikutip dari Al Jazeera, Minggu (1/3/2026). Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan menyebut Khamenei sebagai “martir” atas serangan yang dinilai sebagai bentuk agresi terbuka terhadap kedaulatan negara.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama pejabat Israel telah lebih dahulu mengumumkan keberhasilan operasi militer yang diklaim menargetkan pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Khamenei memimpin Iran sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini. Selama lebih dari tiga dekade, ia menjadi figur sentral dalam sistem politik Republik Islam, mengendalikan arah kebijakan strategis, militer, dan pengaruh regional Iran di Timur Tengah.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa sejumlah anggota keluarga Khamenei turut menjadi korban dalam serangan tersebut. Laporan ini semakin memperdalam duka nasional dan memicu gelombang kemarahan di dalam negeri.
Reaksi keras datang dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Dalam pernyataan resmi yang juga dikutip dari Al Jazeera, mereka menegaskan bahwa kehilangan tersebut tidak akan melemahkan Iran.
“Kami kehilangan seorang pemimpin besar. Namun darahnya akan menjadi pemicu perlawanan.”
IRGC menegaskan bahwa “tangan pembalasan Iran” akan bertindak terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab, sekaligus menyatakan kesiapan menghadapi ancaman dari dalam maupun luar negeri.
Kematian Khamenei kini menjadi momen krusial yang berpotensi mengubah lanskap politik Iran dan meningkatkan tensi geopolitik global.
Dunia internasional menanti arah kebijakan Teheran berikutnya apakah fokus pada proses transisi kepemimpinan atau melangkah menuju konfrontasi yang lebih luas.


