Batam, JDNews.co.id – Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah semakin tegang setelah konflik antara Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel memasuki pekan kedua. Rangkaian serangan militer yang saling berbalas di berbagai wilayah kini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik menjadi perang regional yang lebih besar.Senin (9/3/2026)
Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan kesiapan negaranya menghadapi konflik berkepanjangan. Juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, pada Minggu (8/3) menyatakan Iran mampu mempertahankan perang dengan intensitas tinggi hingga enam bulan apabila situasi pertempuran terus berlangsung seperti saat ini.
Menurutnya, hingga kini Iran baru mengerahkan rudal generasi pertama dan kedua dalam sejumlah operasi militer. Namun dalam waktu dekat, Iran disebut siap menggunakan rudal jarak jauh yang lebih canggih dan selama ini jarang digunakan dalam konflik terbuka.
Dilansir AFP, eskalasi konflik semakin terasa setelah Israel mengumumkan serangan terhadap sejumlah komandan Iran yang berada di sebuah hotel kawasan pesisir di pusat Beirut, Lebanon.
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan yang tidak lagi terbatas pada satu wilayah, melainkan mulai berdampak ke sejumlah negara di kawasan Teluk.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya empat orang tewas dalam serangan tersebut.
Di sisi lain, Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat gelombang drone yang mengarah ke sejumlah target strategis, termasuk kawasan diplomatik di ibu kota Riyadh.
Sementara itu, Kuwait melaporkan serangan drone yang menghantam tangki penyimpanan bahan bakar di bandara internasional negara tersebut.
Insiden yang menyasar fasilitas bahan bakar penerbangan di Kuwait memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Kekhawatiran semakin meningkat setelah perusahaan minyak nasional Kuwait mengumumkan pengurangan produksi minyak mentah sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman keamanan di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu gejolak serius di pasar energi global.
Sementara itu di Iran, pemerintah menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik serangan terhadap sebuah depot minyak di ibu kota Teheran pada Sabtu lalu. Serangan tersebut disebut sebagai laporan pertama yang menargetkan langsung infrastruktur minyak Iran sejak konflik pecah.
Militer Israel kemudian mengonfirmasi bahwa pihaknya memang melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran. Israel menyatakan target tersebut berkaitan dengan dukungan logistik bagi infrastruktur militer Iran.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa negaranya akan terus melanjutkan operasi militer terhadap Iran tanpa kompromi. Ia menyatakan Israel akan melanjutkan perang dengan seluruh kekuatan yang dimiliki.
Ketegangan semakin meningkat setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada pekan lalu dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa tersebut menjadi pemicu utama eskalasi konflik yang kini berpotensi menyeret lebih banyak negara di Timur Tengah ke dalam pusaran perang terbuka.


